Friday, January 29, 2010

Penyakit Zaman "Doeloe" yang Belum Hilang



Kompas - Kamis, 28 Januari | INDIRA PERMANASARI | Di Indonesia, kusta atau lepra merupakan salah satu penyakit yang tak lekang dimakan zaman. Penyakit satu ini tetap bercokol dan mengubah kehidupan orang yang pernah dihinggapinya. Salah satunya Adi Yosep (31). Kusta tak asing lagi bagi Adi dan keluarganya.

Awalnya, ibu dari Adi—pengidap kusta cukup parah—diserang mulai dari gangguan di kulit muka berupa benjolan-benjolan hingga kuman menyerang saraf tangan sang ibu. Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1997, giliran Adi terkena. Muncul bercak putih tanpa rasa sakit di tangannya. ”Tanda itu sudah ada sejak SMP, tetapi empat tahun kemudian baru diperiksakan karena melebar,” katanya.

Setelah didiagnosis kusta, Adi menjalani pengobatan gratis di sebuah puskesmas di Kota Kudus selama setahun dan sembuh total. Sekalipun tanda-tanda kusta sebagian menghilang, tetapi stigma sebagai pengidap kusta masih terekam. Tidak banyak masyarakat tahu tentang penyakit kusta. Yang ada di masyarakat adalah gambaran keliru tentang sakit kusta sebagai kutukan, guna-guna, sangat menular, dan tidak tersembuhkan. ”Dulu, tetangga saya tidak berani bertamu. Kalau ada perlu, mereka berbicara lewat jendela,” ujar pendiri Perhimpunan Mandiri Kusta itu.

Kusta di Indonesia

Istilah kusta berasal dari bahasa Sanskerta, kushtha, yang berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit itu diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang menyebar lewat perpindahan penduduk, antara lain saat perang, penjajahan, dan perdagangan. Penemuan kuman kusta oleh GH Hansen pada tahun 1873 mengawali upaya pencarian obat dan penanggulangan kusta.

Dokter spesialis kulit dan kelamin dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Sri Linuwih, mengatakan, Senin (25/1), kusta termasuk penyakit menular yang penularannya sulit. Hanya sekitar 5 persen yang tertular. Kondisi tubuh yang lemah serta kontak terus-menerus dalam waktu lama memudahkan penularan kusta. Daerah kantong kusta terutama di daerah tropis dan subtropis serta terkait dengan kondisi sosial-ekonomi yang rendah.

Gejala awal kusta, antara lain, kelainan kulit berupa bercak putih, seperti panau atau bercak kemerahan yang mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal, dan tidak sakit. Gejala lanjut ditandai kecacatan, seperti tidak bisa menutup mata, bahkan, sampai buta, mati rasa pada telapak tangan, serta jari-jari kiting (kaku melingkar), memendek, bahkan, putus. Cacat kusta terjadi karena kuman menyerang saraf. Kondisi itu ditemui pada pengidap yang terlambat ditemukan dan diobati.

”Penyakit kusta bisa sembuh total dan obat ada gratis di puskesmas,” ujarnya. Sejak tahun 1982, Indonesia menggunakan terapi obat kombinasi (MDT) sesuai rekomendasi WHO.

Di Indonesia, penyakit lama yang sudah ada obatnya dan bisa disembuhkan total serta sulit menular itu ternyata begitu sulit dieliminasi. Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Iwan M Muljono mengatakan, pada akhir 2008, tercatat 17.441 kasus baru kusta.

Pemerintah mengakui belum mampu mencapai target pengentasan rakyat dari kusta. Prevalensi kusta secara nasional di bawah 1 per 10.000 penduduk, yakni 0,94 per 10.000 penduduk. Tetapi, indikator lain meleset dari target.

Sesuai strategi global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2011-2015, indikator keberhasilan, antara lain, proporsi penderita kusta anak-anak di bawah 5 persen dan proporsi pengidap baru dengan cacat tingkat dua kurang dari 5 persen. Di Indonesia, kusta pada anak 11,4 persen dan kasus baru dengan cacat tingkat dua 9,56 persen. Angka penemuan baru 7,64 per 100.000 penduduk, padahal targetnya di bawah 5 per 100.000 penduduk.

Minimnya pengetahuan tentang kusta menyebabkan pengidap terlambat berobat sehingga menimbulkan cacat dan berpotensi menularkan kuman. Masa inkubasi kusta yang panjang, bisa lebih dari 10 tahun dan tanpa rasa sakit menyebabkan pengidap kerap tidak menyadari dirinya terkena kusta.

Iwan mengatakan, strategi ke depan ialah mengadakan percepatan kegiatan dengan perencanaan pelayanan kesehatan terpadu, penyuluhan intensif, dan penemuan pengidap secara pasif. Keberadaan petugas penanggung jawab program khusus dan pengembangan kemitraan intensif, terutama di daerah endemik tinggi, juga ditingkatkan.

Bagi Adi Yosep, yang kini bekerja sebagai Direktur Program di ASEAN Secretariat-The Nippon Foundation Program untuk Leprosy and Human Dignity Project, eliminasi kusta sangat penting dalam pembangunan. ”Ketika terkena kusta, banyak pengidap putus sekolah atau berhenti bekerja. Mereka malu atau telanjur cacat parah sehingga mengundurkan diri. Kusta membuat orang terputus masa depannya,” ujarnya.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...